Terbang Bersama Aeromodelling PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Hendra S. Hutagalung   
Monday, 02 June 2008

 

“Kami sama sekali tidak berani menerbangkan pesawat jenis free flight (F1) di sini (Lanud, red) karena tempatnya tak cukup luas. Semua tidak berani menerbangkan pesawat mininya karena takut menabrak pesawat ‘raksasa’,” kata Agung.

 

SEBUAH pesawat meluncur ke angkasa. Di buritan pesawat dilengkapi dengan bendera. Pesawat yang baru take off (lepas landas) ini terbang berputar-putar ke udara.  Dari jarak sekitar dua puluh meter, Si empunnya sedang mengatur siasat. “Pesawat ini dikendalikan remote control menggunakan sistem pemancar radio. Jadi terserah kita mau arahkan ke mana,” kata Agung Prayitno, salah seorang Aeromodeller sambil mengendalikan pesawat F3 miliknya dengan remote control.

Peragaan aeromodeling sering dilakukan di komplek perumahan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Tepatnya di Lapangan Udara (Lanud) Sultan Syarif Kasim II, Simpang Tiga Pekanbaru. Beberapa komunitas rutin memainkan di sini.

Minggu (26/4) sekitar pukul 12.00 siang, BM menyaksikan permainan yang sering disebut Aeromodelling—sejenis olahraga dirgantara menggunakan pesawat dan helikopter mainan—ini. Aekro, adalah bahan bakar permainan ini.

Memasuki lapangan Altro—tempat permainan digelar—enam orang pria berusia sekitar 30-an terlihat memainkan pesawat jenis F3. Salah satunya Adi yang sedang dipandu oleh Agung Prayitno. Adi merupakan anak salah satu anggota komunitas ini. Dia belum bisa menerbangkan pesawat, hanya menjalankannya saja.

Terik matahari, tak menyurutkan mereka bermain. “Main di hari panas begini sudah biasa dek, dan ini belum apa-apa,” ujarnya.

Agung lebih senior. Ia memulai hobi seting-menyeting pesawat sejak tahun 1983. Ketertarikannya dengan olah raga ini karena terinspirasi saat bisa merakit pesawat. “Saya penasaran waktu melihat Aeromodelling, kok bisa pesawat terbang dan melayang di udara,” katanya. 

Club Aeromodelling Riau (CAR), ada sejak didirikan Forum Aero Sport Indonesia (FASI) tahun 1999. Waktu itu diketuai Komandan Lanud Pekanbaru, Kolonel penerbang Dodi Trisunu. Di bawah FASI dikembangkan jenis olahraga dirgantara. Antara lain Aeromodelling, Terjun Payung, dan Terbang Layang. “Namun di Riau cuma Aeromodelling yang masih eksis,” katanya. Komunitas ini tak memiliki ikatan formal layaknya sebuah organisasi. “Latihan ini musiman, kalau banyak yang datang, ramai yang main. Tapi kalau lagi sedikit ya sedikit yang main,” terang pria yang suka bergaya sederhana ini.

Banyak pesawat tercipta dari tangannya. “Saya membuat pesawat sejak di Pramuka (Praja Muda Karana) kelas satu SMA,” sambungnya. Di beberapa sekolah di Jawa Timur—tempat dia menimba ilmu kepramukaan—disajikan pelajaran Saka Dirgantara—pelajaran tentang cara membuat pesawat Aeromodelling.

Pesawat berbahan dasar kayu Balsa ini terdiri dari beberapa jenis. “Jenisnya ada tiga, F1, F2, dan F3,” terangnya. Ada tiga tipe untuk free flight (F1), pesawat jenis terbang bebas lempar (outdoor hand launched glider), terbang bebas Tank A2 (free flight glider A2), dan terbang bebas Tank A1 (free flight glider A1). F1 pesawat yang paling sederhana. Ukurannya paling kecil dibanding jenis lain. Harganya juga paling murah, berkisar Rp 100 ribu. “Dengan modal sekitar Rp 60 ribu saja sudah bisa membuat pesawat jenis F1,” ujar Agung. Pesawat ini terbang dipasang mesin dibagian kepala pesawat dan dibantu gerakan angin. “Jarak terbangnya hanya tiga meter dengan waktu terbang maksimal tiga menit,” tambahnya. Pesawat  jenis F2 (u control line) ukurannya lebih besar, pesawat ini diterbangkan dengan tali.

” Terbangnya bisa dengan berputar searah jarum jam, berlawanan arah jarum jam, atau membentuk angka delapan. Semua tergantung dari arah tangan pengendali pesawat, bagaimana membentuk arah putaran pesawat,” lanjut Agung.

Jenis pesawat mini lain adalah  F3. Menggunakan remote control sebagai pengendali. Ada tiga tipe pesawat ini. Aerobatik kendali radio, helikopter kendali radio, dan terbang layang kendali radio. Harga pesawat tersebut  lebih mahal. “Kalau saya yang jual, harganya berkisar Rp 6 juta-an lah.”

 

Lahir beberapa atlet

Banyak gawean yang dilakukan CAR. Melakukan pendidikan membuat pesawat, fun play, dan pelatihan bagi atlet.

“Kadang pengusaha-pengusaha datang untuk menerbangkan pesawat mini milik mereka, itu termasuk fun play, hanya untuk hobi semata,” ungkap Agung. Pendidikan dilakukan seperti merangkai dan menerbangkan pesawat. CAR bekerjasama dengan SMK Masmur Pekanbaru.

“Namun lebih serius membina atlet Aeromodelling. Sampai sekarang sudah ada sebelas atlet yang dibina. Mereka semua akan ikut dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kalimantan Timur Juli mendatang,” ujar pria yang juga anggota militer Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) Riau. Berbagai prestasi telah diraih. Tahun lalu Agung meraih juara III umum tingkat Kejurnas. Selain itu Subandi, salah satu anggota CAR juga pernah meraih prestasi serupa.

Hanya saja para atlet ini merasakan minimnya fasilitas yang ada.”Belum ada tempat khusus yang disediakan pemerintah. Kami sama sekali tidak berani menerbangkan pesawat jenis F1 di sini (Lanud, red) karena tempatnya tak cukup luas. Semua tidak berani menerbangkan pesawat mininya karena takut menabrak pesawat ‘raksasa’,” kata Agung.

“Selain itu sosialisasi pemerintah yang belum maksimal. Itu juga membuat komunitas ini belum banyak dikenal orang. “ ungkapnya. “tetapi kita lebih berharap cepat di bangun lapangannya,” harap Agung.

Meski banyak halangan, mereka tetap mempersiapkan diri untuk iven olahraga nasional terbesar mendatang (PON, red).  Latihan biasanya dimulai pukul 08.00 setiap Senin, Rabu, Jumat, Hari Minggu juga mereka isi hanya sekedar untuk fun play. “Tapi untuk selesainya latihan tergantung dari kemauan masing-masing pemain,” ungkapnya datar. q laporan lovina, *13

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Feature

‘Seribu Doa’ Untuk Aprilita

 

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad. Ruang Merak I Lantai III. Kamar Infeksi. Di sudut kanan lorong belakang, ada tiga orang wanita. Satu terbaring lemas di atas tikar pandan, satu duduk bersandar di dinding sembari menangis terisak, satunya lagi duduk sambil memegang ponsel.

Yang terbaring namanya Ika Desiana. Ia kuliah di Jurusan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Di sebelah kiri Ika, duduk ibunya, Sri Haryanti.

 

Lengkapnya

Baca Juga :

 

 

Lambang Unri