Senja-Senja Di Kampus Unri PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Dona Octiza   
Wednesday, 23 July 2008

Sinar matahari sore di penghujung Mei bagitu cerah. Hari itu Rabu (28/5).  Tujuh mahasiswi belari kecil sambil mendribel bola di lapangan basket Fakutas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri. Sesekali diantara mereka melakukan oper bola ke sesama rekan. Canda dan tawa mewarnai suasana sore itu.

Salah seorang dari mereka bernama Adek.  Adek, mahasiswa FKIP Fisika Unri tinggal di Gobah. Jarak rumah dan jadwal kuliah hingga sore membuat Adek kerap membawa baju ganti agar bisa bermain bola basket. “Tadi jadwal kuliah saya sampai pukul dua siang, karena rumah di Gobah, jauh kalau bolak-balik, makanya saya bawa baju dua,” jelas Adek sembari bercanda dengan rekannya. Menurut Adek, cukup dengan baju kaos,  celana jeans pendek dan sepatu olah raga, bisa langsung bermain. “Basket itu olahraga yang tidak mahal,” ujarnya.

Senja terus berjalan, angka di Ponsel kru BM pukul 17.00. Lapangan bola Voli di depan kampus jurusan pendidikan sejarah FKIP Unri kian ramai di kunjungi mahasiswa. Saling adu keahlian antara tim mahasiswi lawan tim mahasiswa dalam satu lapangan juga terlihat di sore itu. Sorak sorai antar pemain terdengar riuh.

Tak jauh dari kampus guru itu, di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Asmi memperagakan jurus Kempo—olah raga beladiri asal negeri Sakura—pada ketiga rekannya. Mereka mengenakan baju putih dengan sabuk hitam dibalut di pinggang. Asmi adalah pelatih Kempo Unri.

Ia sangat senang dengan keadaan kampus Unri di sore hari. “Di sini banyak kegiatan mahasiswa, terutama sesama olah raga bela diri, seperti karate dan silat,” terang pria lulusan S-2 di salah satu Universitas di Yogyakarta. Meski banyak jenis kegiatan bela diri di Kampus, potensi untuk berkelahi itu besar, tapi mereka justru saling menjaga. “Dari pengamatan saya selama ini, yang biasanya tawuran justru mahasiswa yang tidak tergabung dalam olahraga bela diri,” kata pria yang bekerja di Dinas Kementrian Negara Lingkungan Hidup. Asmi mulai berlatih Kempo di Unri sejak tahun 1986 dan pindah ke Unri Panam tahun 2004.

Adi, salah seorang Pekempo hanya duduk memperhatikan tiga rekannya yang sedang berlatih. Kedua matanya tertuju pada rekannya. “Saya tidak ikut latihan, karena masih sakit,” katanya. Mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) ini kerap berlatih Kempo di Unri. Kalau tidak latihan di Unri, biasanya mereka memilih tempat latihan (dojo) di Gedung Olah raga (GOR).

Selain belah diri, di Jalan Muchtar Luthfi depan rektorat Unri. Banyak mahasiswa yang melakukan Joging. Ada yang berombongan, berdua-an, dan berpasangan dan  ada juga sendiri. Rizky kelihatan ngos-ngosan dan kelelahan saat di jumpai di stadiun mini Unri. “Saya memang hobi jogging,” kata Rizky dengan keringat yang bercucuran dan membasahi bajunya.

Berbeda dengan Rizky, Surya memilih joging di kampus karena dekat dengan tempat tinggalnya. “Kalau kuliah hanya sampai siang, saya biasanya jogging,” ujar mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Fisip 05’ ini santai. Menghabiskan senja di Unri terasa nyaman bagi Surya.

Di lapangan badminton FKIP Unri sore itu diramaikan oleh puluhan lelaki. Mereka rata-rata penggemar olahraga bulu tanggkis. Di tengah lapangan terlihat dua pasangan ganda sedang berlaga. Mereka larut dalam permainan yang kian lama kian seru. Sedangkan yang lainnya menonton dengan santai.  “Kami mulai bermain sejak pukul 4 tadi, mungkin siapnya jam 6 nanti,” ucap Deni, mahasiswa Faperika yang duduk dipinggir lapangan. Awalnya ia diajak oleh seniornya bermain, lama kelamaan jadi keterusan,” katanya sambil memain-mainkan raket.

***

Beberapa mahasiswa sedang mengoperasikan laptop. Mata mereka terpaku pada layar monitor komputer lipat itu. Mereka memanfaatkan fasilitas wireless yang disediakan oleh fakultas, sore Sabtu (31/5). “Manusia yang pintar adalah manusia yang bisa memanfaatkan fasilitas yang ada,” tutur Dody mengawali pembicaraan. menghabiskan waktu senggang di sore hari menjadi pilihan Dody. Dapat mengakses internet dengan sepuasnya tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Rury rekan Dody menuturkan kenyamanan dan kesejukan udara di kampus membuatnya betah. “Kampus udaranya sejuk, enak dijadikan tempat bersantai. Dari pada di rumah, paling cuma nonton,” ujar mahasiswi Ilmu Komunikasi 07’ ini. Dan mahasiswi ini juga berpendapat agar gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) dapat segera didirikan. Menurutnya kampus akan lebih semarak lagi jika semua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bersatu.

Azwel, mahasiswa pendidikan ekonomi FKIP Unri, lebih memilih memamfaatkan fasilitas wireless di sekretariat.  Jarum jam telah menunjukkan pukul setengah enam sore, ia masih betah di sekretariat. “Ini karena saya ada tugas saja,” ujarnya sambil menunggu temannya mencari tugas.

Melangkah keluar biro, di pintu masuk seorang pria yang masih berseragam olahraga pegawai Unri sedang bersantai duduk menonton televisi.  “Saya lebih suka bekerja sampai sore, dari pada pekerjaan saya bawa pulang, lebih baik saya kerjakan di sini,”  ungkap M.Dinir, pegawai bagian akademis FKIP.

***

Di Archacia Bridge dari kejauhan terlihat tiga orang muda-mudi sedang berfoto-foto di sekitar jembatan. Mereka berpose. Mereka bukan mahasiswa Unri. Mereka mengunjungi Unri untuk memanfaatkan waktu luang. “Pemandangannya bagus, selain itu juga dekat dengan rumah saya,” kata Andre, alumni SMA 9 Pekanbaru.

Bangku-bangku di sekitar Archacia Bridge hampir penuh. Mereka saling  bercengkerama. Erna salah seorang dari mereka  mempunyai alasan tersendiri berada Archacia Bridge. “Senin besok kan mau ujian, jadi ini untuk refrehing aja,” kata gadis berjilbab hitam ini.

Pemandangan lainnya juga bisa dilihat di taman samping gedung rektorat. Di sana terlihat dua jenis olah raga bela diri. Tekwondo dan silat. Masing-masing dari mereka berlatih serius. Tendangan. Tinju, dan bermacam gerakan lainnya. Wandi, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) sedang beristirahat usai membantu adik-adik seperguruannya berlatih. Ia membandingkan Unri dengan kampusnya. “Kalau di UIN sepi, mungkin karena jauh dari pemukimannya,” ujarnya. Cima, siswa Sekolah Dasar (SD) 022 Simpang Kualu membenarkan ucapan kakak tingkatnya. “Di Unri enak, ramai,” katanya singkat.

Demikian juga halnya dengan olahraga sepak bola. Olah raga yang umumnya dimainkan oleh kaum Adam ini hampir mewarnai tiap sudut lapangan kampus. Mulai dari lapangan bola Oldtrafo di depan Mesjid Arfaunnas, lapangan FKIP, Fakultas Ekonomi (FE), hingga  di Fakultas Teknik (FT). Jo, mahasiswa FKIP ini sangat senang bermain bola.  Meski sering didera cidera, ia tak pernah “kapok”. Tempat favoritnya di lapangan bola kaki FKIP. “Kalau hari-hari biasa saya hanya sesekali berlatih di sini, tapi jika hari-hari menjelang pertandingan, tiap hari saya bisa di sini,”ujar lelaki berkaca mata ini. 

Pemandangan lebih ramai dijumpai di lapangan Oldtrafo. Selain ramai oleh pemain, penonton pun tak mau kalah. Mereka (penonton- red) ada yang sekedar duduk-duduk santai, dan ada juga yang berdiri serta melompat-lompat memberi semangat kepada tim kesayangannya.

Adzan magrib pun berkumandang. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan aktivitas masing-masing. laporan: mely

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Feature

‘Seribu Doa’ Untuk Aprilita

 

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad. Ruang Merak I Lantai III. Kamar Infeksi. Di sudut kanan lorong belakang, ada tiga orang wanita. Satu terbaring lemas di atas tikar pandan, satu duduk bersandar di dinding sembari menangis terisak, satunya lagi duduk sambil memegang ponsel.

Yang terbaring namanya Ika Desiana. Ia kuliah di Jurusan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Di sebelah kiri Ika, duduk ibunya, Sri Haryanti.

 

Lengkapnya

Baca Juga :

 

 

Lambang Unri