Beasiswa Ganda, Salah Siapa? PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Rapida Marosa   
Friday, 10 October 2008

“Pencemaran nama baik,” ujar Susilawati sambil bergurau saat ia melihat namanya tercan­tum dalam surat pem­beritahuan dari Pembantu Rektor (PR) III Unri. Surat itu berbunyi: pembayaran Sumbangan Pembangunan Pendidikan (SPP) 17 mahasiswa ditunda. Rektorat menduga mereka menerima beasiswa ganda. Sial bagi Susilawati, namanya tertera dalam surat tersebut.

Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini sebenarnya cuma men­dapat satu beasiswa. Bahkan ia sudah mem­beritahukan pihak rek­torat, kalau dirinya tidak menerima beasiswa ganda. “Ternyata pihak rektorat menyangka kalau saya mendapat dua beasiswa,” ujar mahasiswi jurusan Pendidikan Kimia ini. “Saya hanya mendapat beasiswa Bantuan Biaya Mahasiswa (BBM),”lanjut mahasiswi yang aktif di Himpunan Mahasiswa jurusan (HMJ) Pendidikan Kimia. “Ternyata di FKIP ini nama saya ada dua, angkatan sama, tapi prodi yang satu lagi fisika,” jelasnya.

Berbeda dengan Su­silawati. Afu Giovani, memang menerima bea­siswa doble—Tanoto Foundation dan BBM. Beasiswa Tanoto ia da­patkan saat semester lima—tahun ini adalah te­rakhir ia menerima ku­curan dana dari yayasan taipan itu. Saat semester lima itu pula, Afu men­dapat beasiswa BBM hasil rekomendasi Badan Ek­sekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Afu tak tinggal diam. Ia mengadu pada bagian akademis FISIP. Pihak dekanat FISIP cuai. Afu lalu  melapor ke rektorat pasca keluarnya surat pemberitahuan PR III. “Saya sudah melaporkan pada PR III, tinggal menunggu pengumuman dari rektorat lagi,” tutur mantan wakil BEM FISIP periode 2007-2008. Agar urusan SPP nya lancar, rektorat memberi syarat kepada Afu:  mengem balikan salah satu beasiswa yang diterima nya. “Saya mengembalikan  beasiswa BBM, karena belum semua nya saya terima,” ujar mahasiswa jurusan Sosio logi ini.

Nasib serupa dialami Mursal Efendi. Mahasiswa Fakultas Teknik (FT) ini mengurus dua beasiswa—Sumatera Petroleum and Energy (SPE) dan BBM—hampir bersamaan. “Sem ula saya tidak mengetahui mana yang lulus, makanya saya urus dua sekaligus,” aku Mursal saat ditemui di ruang Himpunan Mahasis wa Teknik Kimia (Hima Teki). Ternyata keduanya lulus. Mursal lalu mengadu ke dekanat. Namun pihak dekanat tak menghirau kan. “Ya udah, nggak apa-apa,” ujar Mursal meni rukan ucapan Pembantu Dekan (PD) III FT saat itu. Kini ia terpaksa berurusan dengan pihak rektorat. Salah satu beasiswa yang diterimanya harus dikembalikan agar bisa membayar SPP.         

Nova Wahyu Pratiwi mengaku pasrah ketika melihat namanya tercan tum dalam surat edaran tersebut. Semula ia meng urus beasiswa Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan PPA awal semester tiga. “Iseng-iseng selagi Indeks Prestasi (IP) tinggi,” ujar mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini. Namun kedua beasiswa yang diurusnya tembus. Nova pun menerima kedua beasiswa tersebut. Setelah keluar surat edaran PR III, ia melapor ke rektorat. Akibatnya, ia harus mengembalikan salah satu beasiswa yang diterima nya. “Dari pada nggak bayar SPP, lebih baik uangnya dikembalikan,” kata Nova yang juga pengurus Himpunan Mah asiswa Jurusan (HMJ) Biologi ini. Nova memilih mengembalikan BRI ke rektorat. Nova mengaku melamar dua bea­siswa itu karena kurangnya informasi yang diberi kan dari jurusannya. Sebelumnya ia tidak tahu kalau ia lulus bea­siswa BRI, ka­rena uangnya langsung ditransfer ke rekeningnya tanpa ada peng umuman dari fakul tas.

***

Rektorat tak se­penuh­nya mem­berikan kewena­ngan mengurus beasiswa pada fakultas. Sehingga ada mahasiswa yang mengurus di fakultas dan rektorat. Dua-duanya bisa saja lulus. Drs. Zulkarnain, Mpd, Pembantu Dekan (PD) III FKIP merasa galau. “Saya nggak ngerti seperti apa kebijakan rektorat,” ujarnya.

Zulkarnain menya­yangkan kejadian ini. Padahal waktu rapat forum PD III se- Unri, forum PD III fakultas telah mengusulkan pada PR III agar beasiswa cukup ditangani fakultas. “PR III hanya mengangguk-ang guk saja waktu itu, tapi tak pernah terealisasi,” sesal nya. Apalagi ia melihat pemegang beasiswa ganda kebanyakan para organi­satoris lembaga maha­siswa.

Lama jangka waktu dari donatur beasiswalah yang menjadi kendala. “Donatur kadang terlalu lama memberikan bea­siswa pada mahasiswa, sehingga mahasiswa ter­sebut mengurus bea­siswa lain,” jelas Drs. Rolan Pane, PD III FMIPA. Akibatnya, pihak fakultas tak bisa memutuskan mahasiswa tersebut telah menerima beasiswa atau tidak. PD III FE, Drs. Syapsan M.Si berpendapat sama. “Karena beasiswa tersebut belum diterima oleh mahasiswa, maka surat rekomendasi belum menerima beasiswa pun bisa dikeluarkan,” ucapnya awal Agustus lalu. “Hanya diperlukan kejujuran mahasiswa saja,” terang Syapsan berencana mem bahas ini pada rapat forum PD III Unri.

Beasiswa ganda, kata PD III FT Ir. Alfian Kamaldi, terjadi karena tak disengaja. Bahkan Jarang tembusan beasiswa diaju kan ke dekanat, melainkan langsung ke Universitas. “Karena kita tidak punya data, entah itu disuruh pilih salah satu atau bagaimana, karena itu urusan pihak universitas,” kata Alfian. Apalagi, lanjutnya, untuk me­nahan surat rekomen­dasi belum menerima beasiswa itu sulit. “Pihak dekanat tidak membatasi maha­siswa untuk mendapatkan beasiswa lebih, asal usaha sendiri dan tidak ada sangkut paut dengan fakultas,” tuturnya.

Sebenarnya total maha siswa yang menerima beasiswa ganda berjumlah 37 orang. Tujuh belas orang telah menerima kucuran dana sisanya belum menerima. Saat ini menu rut Kepala Sub Bagian Kesejahteraan Mahasiswa Unri, Kartini S.Pd semua mahasiswa yang menerima beasiswa ganda telah mengembalikan salah satu beasiswanya. “Pengganti beasiswa ini diserahkan pada fakultas masing-masing,” terang wanita berjilbab ini. Mereka diizinkan membayar SPP mulai 4 Agustus lalu sampai akhir pembayaran SPP (16/8). Namun sampai sekarang beasiswa IM-HERE belum diganti, karena belum mendapatkan mahasiswa yang sesuai. “Secepatnya akan dicari pengganti,” ujar Kartini.

***

PR III Unri, Drs. Rahmat, M.T tak setuju jika pengurusan beasiswa diserahkan sepenuhnya ke fakultas. “Bagi mahasiswa yang langsung mem berikan berkas-berkas syarat beasiswa ke rekto rat. Rektorat akan membe rikannya lagi ke fakultas, dan rektorat yang akan memutuskan,” Tegas Rah mat. Ia mengancam para mahasiswa yang tak mengembalikan salah satu dari beasiswa ganda, akan dinonaktifkan dari kuliah. “Sekitar 4.500-an lebih mahasiswa yang mendapat beasiswa di Unri tidak akan bisa diperiksa satu persatu, kalau tidak membutuhkan waktu yang lama,” jelasnya. “Kan banyak urusan lain yang harus dikerjakan,” ujarnya.

Ia menganggap lemah nya penguasaan sistem teknologi informasi para staff di fakultas yang menjadi penyebab. “Sebenarnya kurangnya dalam teknologi meru pakan kendala utama,” kilahnya.

Padahal di BM edisi Mei-Juni lalu (baca: Sepenggal Kisah Beasiswa Unri), mantan dekan FT itu berani menjamin tidak ada lagi mahasiswa yang mene rima beasiswa ganda. “Kami sudah meng guna kan sistem kom puteri sasi,” tegasnya.

Lagi-lagi  data base Universitas dipertanyakan.  “Kalau masih ada penggan daan beasiswa. Untuk apa data base dibuat?” ujar pim pinan Fakultas yang enggan disebut namanya. laporan: *16, *12

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Feature

‘Seribu Doa’ Untuk Aprilita

 

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad. Ruang Merak I Lantai III. Kamar Infeksi. Di sudut kanan lorong belakang, ada tiga orang wanita. Satu terbaring lemas di atas tikar pandan, satu duduk bersandar di dinding sembari menangis terisak, satunya lagi duduk sambil memegang ponsel.

Yang terbaring namanya Ika Desiana. Ia kuliah di Jurusan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Di sebelah kiri Ika, duduk ibunya, Sri Haryanti.

 

Lengkapnya

Baca Juga :

 

 

Lambang Unri