“Pembangunan auditorium sudah direncanakan sejak tahun 2003,” ungkap Ir. Gunawan Tabrani, Sekretaris Pusat pengembangan dan Pendidikan (Pusbangdik) Unri. Gedung ini, lanjut Gunawan Tabrani, berasal dari usulan Pusbangdik. Saat itu program Pusbangdik padat berupa seminar, workshop dan berbagai pelatihan. Biasanya Pusbangdik menggunakan fasilitas rektorat lantai IV. Namun, saat peserta over kapasitas terpaksa dihelat di hotel. “Kadang juga rektorat dipakai mahasiswa,” imbuh Gunawan. Atas dasar itu Pusbangdik pun mulai menyusun konsep termasuk menyusun proposal gedung auditorium.
“Gedung yang di dalamnya tak hanya bisa melakukan berbagai kegiatan baik tingkat mahasiswa maupun universitas tetapi juga menjadi ikon Universitas,”akunya ketika ditemui Senin, (25/8).
Tahun 2003 proposal itu langsung mereka ajukan pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, Gubernur Rusli Zainal—kala itu masih menjabat gubernur Riau. Proposal disetujui Pemprov.
Nilai kontrak yang ditawarkan Pusbangdik sebesar Rp 13 milyar. Namun Pemprov hanya menyetujui senilai Rp 10 Milyar. Rinciannya: tahun pertama akan dikucurkan sebesar Rp 3 Milyar, tahun berikutnya Rp 7 Milyar. Meski disetujui oleh Pemprov, dana belum cair sepersenpun ke tangan Pusbangdik.
Bahkan Rp 250 juta telah dilelangs untuk membuat basetage (gambar pancangan). Untuk rancangan gedung diserahkan pada PT Pandan Salas. Bentuk yang dirancang PT itu mirip gedung Idrus Tintin yang berdiri megah di Purna MTQ saat ini. ”Auditorium rencananya akan ada kantor Pusbangdik, kantor divisi, auditorium amply teathre, pokoknya untuk pertemuan seminar berskala internasional,” katanya lagi.
Memasuki tahun 2004, anggaran disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Propinsi. Namun, saat akan direalisasikan tahun berikutnya anggaranraib. ”Padahal Daftar Isian Proyek (DIP) sudah disetujui di DPRD, tapi entah mengapa tahun berikutnya hilang,” keluhnya.
“Pimpinan Universitas (era Muchtar Achmad, red) sempat mempertanyakan. Namun, karena pengaruh politik ditambah lagi Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) juga meminta anggaran pembangunan gedung mereka, Pusbangdik pun mengalah,” ujar Gunawan dengan nada melemah.
Pusbangdik tak menyerah begitu saja. Tahun berikutnya, Pusbangdik mengajukan proposal kembali ke Pemrov. Usulan ini tak digubris.
***
Setelah lama vakum, tahun 2006 Ashaluddin Jalil, rektor Unri yang baru —menggantikan Muchtar Achmad—kembali mengajukan wacana gedung auditorium. Namun, kali ini langsung ditangani pihak Universitas.
Ia membenarkan waca na pembangunan auditorium sejak tahun 2003. “Se mua terkendala dana, dananya memang sudah ada dari APBD, tapi tidak keluar-keluar,” ungkap Udin—sapaan rektor Unri. “Sebenarnya bukan dari APBD yang bermasalah, tapi kedekatan kita yang tidak ada ke sana,” akunya pula. “Apa pun yang kita lakukan tapi pendekatannya tidak klop dengan mereka ya tidak pernah selesai.”
“Kapasitas gedung 5000 orang,” jelas Udin.“Auditorium itu untuk kita, tapi kalau nanti mau dipergunakan untuk PON silahkan, untuk masyarakat juga bisa karena auditorium itu multi fungsi,” ujarnya.
Yanuar Hamzah, Pembantu Rektor (PR) II yang menggantikan Yohanes Oemar, menjanjikan pembangunan auditorium akan selesai tahun 2009. “Kemarin kita sudah dapat dana sebesar Rp 24 miliardari Pemerintah Propinsi,” ungkapnya ketika ditemui diakhir acara pelantikannya sebagai PR II, Rabu (03/09) lalu. ”Sisanya kita akan berusaha mendapatkannya dari Pemerintah Kabupaten/Kota,” ucapnya optimis.
Awalnya auditorium akan dibangun antara gedung rektorat dan Fakultas Perikanan. Tepatnya di depan sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa (Menwa). Menurut, Gunawan tempat tersebut dipilih karena merupakan pintu masuk gerbang Unri. Namun, setelah dikelola universitas, tempatnya berubah di sekitar 200 m dari jalan depan stadion Unri. “Tempatnya berbeda karena kita mengikuti saran dari konsultan yang baru,”jelas Yanuar singkat.
Model GGM ini terinspirasi dari gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung dan Balai Sarbini Jakarta. GGM adalah hasil kombinasi kedua gedung tersebut. Modelnya menyerupai UFO— makh luk luar angkasa.Mengambil filosofi gasing—permainan khas Riau. “Pak Rektor berharap dengan bentuk gasing, gedung ini akan terus berputar,” tutur Syafri Hafiz, ketua lelang audiotorium dari Dinas Pemukiman dan perencanaan prasarana wilayah (Kimpraswil) Riau. Tiga fasilitas yang disediakan gedung ini, terdiri dari bangunan utama, plaza, amplifier dan elektrikal.
“November 2007 rektor meminta tenaga ahli pelelangan kepada Dinas Kimpraswil. Tim pelelangan dibentuk oleh Unri.“Saya termasuk tim yang dibentuk oleh teman-teman dari dosen Fakultas Teknik (FT),” cerita Syafri meneruskan pembicaraan.
Pembangunan tahap demi tahap pun mulai.Tahap pertama diawali dengan manajemen kontruksi— pelelangan periode pra verifikasi—yang dimenangkan oleh PT Yodia Karya (salah satu perusahaan BUMN). Setelah dilakukan penekanan kontrak, barulah tahap kedua yang langsung dikelola oleh konsultan perencana, tepatnya pada 31 Maret 2008.“Ada sembilanperusahaan konsultan yang masuk, setelah diseleksi, maka panitia lelang mengumumkan PT Pandu Persada sebagai pemenang,”jelas Master Teknik Universitas Diponegoro (Undip) yang ditemui Selasa (9/9) di sela-sela kesibukannya sebelum memulai pelelangan gedung FakultasHukum (FH).
Setelah poses perencanaan usai—karena keterbatasan dana—untuk tahap awal pembangunan fisik ini baru tersedia dana sebesarRp 29 milyar.
Setelah dilelang, dari 15 perusahaan yang memasukkan penawaran, PTPT Adhi Karya berhasil memenangkannya dengan tawaranRp 24,617 Milyar dari OE Rp 28,299 milyar.”Total dari perencanaan dari awal hingga akhir diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp 108 Milyar,” kata pria berkumis ini. Senada rencana rektor, Syafri ju ga menargetkan penyelesaian GGM pada Februari2009. “Saya harap saat itu sudah terbentuk kerangka dan atapnya,” harap Kepala Sub Dinas Cipta Karya Kimpraswil ini lagi.
“Namun cepat tidaknyapembangunan GGM ini juga tergantung dari dana yang ada” ucapnya datar. “Saya ingin mene kankan bahwa dalam hal ini saya hanya sebagai tim teknis yang dibentuk rektorsebagai penasehat pelaksanaan fisiknya, Mengenai yang lain-lain itu semua diluar wilayah saya.” laporan aci, lovina, prima.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad. Ruang Merak I Lantai III. Kamar Infeksi. Di sudut kanan lorong belakang, ada tiga orang wanita. Satu terbaring lemas di atas tikar pandan, satu duduk bersandar di dinding sembari menangis terisak, satunya lagi duduk sambil memegang ponsel.
Yang terbaring namanya Ika Desiana. Ia kuliah di Jurusan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Di sebelah kiri Ika, duduk ibunya, Sri Haryanti.