Auditorium Milyaran Rupiah PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Dona Octiza   
Friday, 10 October 2008

“Pembangunan auditorium sudah direncanakan sejak tahun 2003,” ungkap Ir. Gunawan Tabrani, Sekretaris Pusat pengem­bangan dan Pendidikan (Pusbangdik) Unri. Gedung ini, lanjut Gunawan Tabrani, berasal dari usulan Pusbangdik. Saat itu program Pus­bangdik padat berupa seminar, workshop dan berbagai pelatihan. Bia­sanya Pusbangdik meng­gunakan fasilitas rektorat lantai IV. Namun, saat peserta over kapasitas terpaksa dihelat di hotel. “Kadang juga rektorat dipakai mahasiswa,” im­buh Gunawan. Atas dasar itu Pusbangdik pun mulai menyusun konsep ter­masuk menyusun proposal gedung auditorium.

 

“Gedung yang di dalamnya tak hanya bisa melakukan berbagai ke­giatan baik tingkat ma­hasiswa maupun universitas tetapi juga menjadi ikon Universitas,”akunya ke­tika ditemui Senin, (25/8).

Tahun 2003 proposal itu langsung mereka ajukan pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, Gubernur Rusli Zainal—kala itu masih menjabat gubernur Riau. Proposal disetujui Pemprov.

Nilai kontrak yang ditawarkan Pusbangdik sebesar Rp 13 milyar. Namun Pemprov hanya menyetujui senilai Rp 10 Milyar. Rinciannya: tahun pertama akan dikucurkan sebesar Rp 3 Milyar, tahun berikutnya Rp 7 Milyar. Meski disetujui oleh Pem­prov, dana belum cair se­persenpun ke tangan Pusbangdik.

Bahkan Rp 250 juta telah dilelangs untuk mem­buat basetage (gambar pancangan). Untuk ranca­ngan gedung diserahkan pada PT Pandan Salas. Bentuk yang dirancang PT itu mirip gedung Idrus Tintin yang berdiri megah di Purna MTQ saat ini. ”Auditorium rencana­nya akan ada kantor Pusbang­dik, kantor divisi, auditorium amply teathre, pokok­nya untuk pertemuan seminar berskala inter­nasional,” katanya lagi.

Memasuki tahun 2004, anggaran disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Propinsi. Namun, saat akan direalisasikan tahun berikutnya angga­ran raib. ”Padahal Daftar Isian Proyek (DIP) sudah disetujui di DPRD, tapi entah mengapa tahun berikutnya hilang,” keluhnya.

“Pimpinan Universitas (era Muchtar Achmad, red) sempat mempertanyakan. Namun, karena pengaruh politik ditambah lagi Fa­kultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) juga meminta anggaran pembangunan gedung me­reka, Pusbangdik pun me­ngalah,” ujar Gunawan dengan nada melemah.

Pusbangdik tak menye­rah begitu saja. Tahun beri­kutnya, Pusbang­dik mengajukan proposal kem­bali ke Pemrov. Usulan ini tak digubris.

***

Setelah lama vakum, ta­hun 2006 Ashaluddin Jalil, rektor Unri yang baru —menggantikan Muchtar Ach­mad—kembali menga­jukan wacana gedung auditorium. Namun, kali ini langsung ditangani pihak Universitas.

Ia membenarkan waca na pembangunan auditorium sejak tahun 2003. “Se mua ter­kendala dana, dananya memang sudah ada dari APBD, tapi tidak keluar-keluar,” ungkap Udin—sa­paan rektor Unri. “Sebe­narnya bukan dari APBD yang bermasalah, tapi kedekatan kita yang tidak ada ke sana,” akunya pula. “Apa pun yang kita lakukan tapi pendeka­tannya tidak klop dengan mereka ya tidak pernah selesai.”

“Kapasitas gedung 5000 orang,” jelas Udin. “Auditorium itu untuk kita, tapi kalau nanti mau diperguna­kan untuk PON silahkan, untuk masya­rakat juga bisa karena auditorium itu multi fungsi,” ujarnya.

Yanuar Hamzah, Pem­bantu Rek­tor (PR) II yang me­ng­gantikan Yo­hanes Oe­mar, men­janjikan pembangu­nan auditori­um akan selesai ta­hun 2009. “Kemarin kita sudah dapat dana sebesar Rp 24 miliar dari Pemerintah Propinsi,” ungkapnya ke­tika ditemui diakhir acara pe­lanti­kannya sebagai PR II, Rabu (03/09) lalu. ”Sisanya kita akan berusaha menda­pat­kannya dari Pemerintah Kabupa­ten/Kota,” ucapnya optimis.

Awalnya auditorium akan dibangun antara ge­dung rektorat dan Fa­kultas Perikanan. Tepat­nya di depan sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Maha­siswa (Men­wa). Menurut, Gu­nawan tempat tersebut dipilih karena merupakan pintu masuk gerbang Unri. Namun, setelah dikelola universitas, tempatnya berubah di sekitar 200 m dari jalan depan stadion Unri. “Tempatnya ber­beda karena kita mengi­kuti saran dari konsultan yang baru,”jelas Yanuar singkat.

Model GGM ini terinspirasi dari gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung dan Balai Sarbini Jakarta. GGM adalah hasil kombinasi kedua gedung tersebut. Modelnya menyerupai UFO— makh luk luar ang­kasa. Me­ngambil filosofi gasing—permainan khas Riau. “Pak Rektor berharap dengan bentuk gasing, gedung ini akan terus berputar,” tutur Syafri Hafiz, ketua lelang audiotorium dari Dinas Pemukiman dan peren­canaan prasarana wilayah (Kim­praswil) Riau. Tiga fasilitas yang disediakan gedung ini, terdiri dari bangunan utama, plaza, amplifier dan elektrikal.

“November 2007 rektor meminta tenaga ahli pele­langan kepada Dinas Kim­praswil. Tim pelelangan di­bentuk oleh Unri. “Saya ter­masuk tim yang diben­tuk oleh teman-teman dari dosen Fakultas Teknik (FT),” cerita Syafri mene­ruskan pembi­caraan.

Pembangunan tahap demi tahap pun mulai. Tahap pertama diawali dengan manajemen kon­truksi— pelelangan peri­ode pra verifikasi—yang dime­nangkan oleh PT Yodia Karya (salah satu perusahaan BUMN). Sete­lah dilakukan penekanan kontrak, barulah tahap ke­dua yang langsung dike­lola oleh konsultan peren­cana, tepatnya pada 31 Maret 2008. Ada sem­bilan peru­sahaan konsul­tan yang ma­suk, setelah diseleksi, maka panitia lelang me­ngumumkan PT Pandu Persada sebagai peme­nang,”jelas Master Teknik Universitas Dipo­negoro (Undip) yang dite­mui Selasa (9/9) di sela-sela kesibu­kannya sebe­lum memu­lai pelelangan gedung Fakultas Hukum (FH).

Setelah poses peren­canaan usai—karena keter­batasan dana—untuk ta­hap awal pembangunan fisik ini baru tersedia dana sebesar Rp 29 milyar.

Setelah dilelang, dari 15 pe­rusahaan yang mema­suk­kan penawaran, PT PT Adhi Karya berhasil me­menang­kannya dengan tawaran Rp 24,617 Milyar dari OE Rp 28,299 milyar.”Total dari peren­canaan dari awal hingga akhir diper­kirakan akan menghabiskan dana sebe­sar Rp 108 Mil­yar,” kata pria ber­ku­mis ini. Sena­da rencana rektor, Syafri ju ga menar­getkan penye­lesaian GGM pada Feb­ruari 2009. “Saya ha­rap saat itu su­dah terbentuk ke­rangka dan atap­nya,” harap Kepala Sub Dinas Cipta Karya Kim­praswil ini lagi.

“Namun cepat tidak­nya pemba­ngunan GGM ini juga tergantung dari dana yang ada” ucapnya datar. “Saya ingin mene­ kan­kan bahwa dalam hal ini saya hanya sebagai tim teknis yang dibentuk rektor sebagai penasehat pelaksa­naan fisik­nya, Me­ngenai yang lain-lain itu semua diluar wilayah saya.” lapo­ran aci, lovina, prima.

 

Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 10 October 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Feature

‘Seribu Doa’ Untuk Aprilita

 

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad. Ruang Merak I Lantai III. Kamar Infeksi. Di sudut kanan lorong belakang, ada tiga orang wanita. Satu terbaring lemas di atas tikar pandan, satu duduk bersandar di dinding sembari menangis terisak, satunya lagi duduk sambil memegang ponsel.

Yang terbaring namanya Ika Desiana. Ia kuliah di Jurusan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Di sebelah kiri Ika, duduk ibunya, Sri Haryanti.

 

Lengkapnya

Baca Juga :

 

 

Lambang Unri