Berharap Di Musim Hujan PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh T. Parlindungan Nst.   
Friday, 10 October 2008

Melintasi jalan lintas Riau-Sumatera Barat (Sumbar). Setelah melewati jembatan Rantau Berangin di Kabupaten Kampar menuju ke arah Payakumbuh, Sumbar. Kondisi jalan yang dilewati banyak tikungan. Sisi kanan jalan  jurang curam. Di sisi kiri jalan tarhampar perbukitan yang merupakan lapisan endapan batuan keras, ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan dataran tinggi. Udara perbukitan terasa menyejukkan, meski matahari bersinar terik.

Di perbukitan inilah, “Kurang lebih lima kilo meter dari pemukiman masyarakat Rantau merangin,” ujar Zulfan, salah satu warga setempat. Sebagian warga setempat memanfaatkan bukit sebagai sumber mata pencarian. Menggunakan peralatan seadanya seperti linggis, martil dan pahat, mereka berusaha memahat bukit hingga berbentuk pecahan. Pecahan batu kemudian dikumpulkan untuk dijual. “Kami menyebutnya  sebagai ‘pemecah batu tebing’,” tambah Zulfan yang juga melakoni profesi serupa.

***

Rabu, akhir Juli lalu, setelah sarapan seadanya Zulfan langsung berkemas. Dengan mengendarai sepeda motor ia menuju daerah perbukitan tempat ia mengadu nasib. “Saya sudah 6 tahun bekerja sebagai pemecah batu tebing,” ungkapnya yang BM temui saat istirahat siang. Dari pagi ia sudah mulai memecah batu. “Bekal saya hanya air putih dengan ini,” ujarnya sambil menunjukkan sebungkus rokok. Ia memilih tidak pulang ke rumah untuk makan siang, “Dari pada buang-buang minyak motor,” katanya sambil menghembuskan asap rokok yang dihisapnya.

Pekerjaan ini tidaklah mudah, “Tidak langsung pandai, butuh teori juga,” ungkap Indra teman Zulfan. “Memahat batu harus mengikuti garis celah batu,” jelasnya sembari menunjuk tebing bekas pahatannya. Indra menyadari pekerjaan telah dilakoninya sejak tujuh tahun lalu ini beresiko besar. Selain harus mengeluarkan tenaga ekstra, “Harus hati-hati agar tidak mencelakai,” ungkap pria berumur 23 tahun ini.

Memecah tebing harus dimulai dari tempat paling tinggi. “Untuk meng­hindari longsoran,” jelas Indra. Sebelum bekerja, Indra mendaki sampai ke puncak dulu. Lalu ia mengikatkan tali pada sebatang pohon yang cukup kuat untuk menopang tubuhnya. “Tali ini diikatkan di pinggang atau sekitar paha,” ujarn ayah satu  anak ini. Sambil bergelantungan, dengan lihai Indra melakukan aksinya.

Pekerjaan yang mereka lakoni bertentangan dengan aturan pemerintah. “Dinas pertambangan (Pemkab Kampar, red) melarang kami bekerja seperti ini,” ungkap Indra. “Tapi pemerintah hanya melarang, tidak memberi solusi,” tambah Zulfan. Terkadang mereka kerap dirazia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). “Semua alat disita,” kata Zulfan mengenang peristiwa enam bulan lalu. “Satu perangkat alatnya itu dibeli ratusan ribu,” tambahnya lagi. Tapi akhir-akhir ini tidak pernah ada razia. “Paling kalau ada pejabat yang mau lewat kami disuruh berhenti sejenak,” ungkap Indra.

“Memecah tebing dapat mengganggu aktifitas lalu lintas,” ungkap Indra menirukan himbauan dari pihak Dinas Pertambangan Kabupaten Kampar. Him­bauan tinggal him­bauan. Tak satu pun dari mereka rela me­ninggalkan peker­jaannya. Ketika semua alat disita, para kuli pemecah batu ini merasa kecewa. Merasa haknya ditindas, rencana demo pun sempat digelar. “Kami sempat minta bantuan kepada himpunan maha­siswa Kampar,” kenang Zulfan. Tidak mendapat   tang­gapan dari  maha­siswa, aksi demo pun urung dilakukan.                            ***

Indra sering me­ngasah otak berusaha mendapat­kan pekerjaan baru yang menurutnya lebih baik. “Tapi sejauh ini tidak ada,” ujar pria yang hanya tamatan SD ini. Zulfan merasa pekerjaan ini sebenarnya tidak layak menggunakan tenaga manusia. “Alat berat saja bisa rusak apalagi otot manusia diadu dengan tebing sekeras ini,” ungkapnya sambil tersenyum kecil. Karena tidak ada pilihan lain, ia putuskan tetap bertahan.

Terlalu lelah bekerja sering membuat Zulfan susah tidur malam harinya. “Semua badan terasa sakit,” keluh pria berperawakan kekar ini. Kedua telapak tangannya pecah, mengelupas, menebal dan kasar. “Lebih kasar lagi dari pada telapak kaki,” katanya sembari membuka telapak tangannya. “Kalau sedang mandi sering saya cuci dan digosokkan ke semen kasar (lantai kamar mandi, red),” ujar lelaki berkepala tiga ini. “Mati rasa dan tetap saja tak mau menipis,” sambungnya.

Seorang dari mereka setiap harinya mampu mengumpulkan batu sekitar satu kubik. Namun tidak setiap hari mereka dapat melakukan akti­fitasnya. “Kalau musim hujan kita takut longsor,” aku Yandri Oktayana yang diamini Indra.

Saat musim hujan mereka tidak bisa bekerja, padahal saat musim hujanlah batu mereka banyak terjual. Batu ini banyak dibeli perusahan-perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk menimbun jalan yang rusak (becek) di sekitar perkebunan. “Kalau tidak ditimbun truk perusahaan (penga ngkut sawit,-red) susah jalan,” terang Zulfan. 

Harga batu bernilai Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu per kubik. Namun, tidak tiap hari pembeli mengunjungi mereka. “Ini sudah hampir satu bulan tak ada pembeli,” aku Indra. Tapi mereka memilih tetap memahat batu meski penjual tak kunjung datang. “Nanti kalau musim hujan kan banyak pembeli, kita tinggal jual,” ujar Zulfan.

Kondisi seperti ini mengharuskan mereka mencari penghasilan tambahan. “Kalau siang memecah batu malamnya cari ikan,” ungkap Zulfan. “Harus pandailah men­cukup-cukupkan uang untuk belanja,” katanya sedikit terbata.

Zulfan beruntung. Sore itu, sebuah truk berhenti tepat di hadapannya. “Batu yang kemarin bapak beli punya saya juga,” ungkap Zulfan pada si pembeli yang dikenalnya sekitar dua minggu lalu itu. Setelah tawar menawar, sebanyak lima kubik batunya terjual. Senyum bahagia tersirat di wajah lelaki yang hanya mengenakan celana jeans pendek.

Matahari kian condong ke barat. Zulfan dan tem an-temannya memuat batu ke dalam truk dengan suka cita. Sambil bekerja mere ka bergurau, saling cela dan tertawa. Setidaknya mereka tampak tanpa beban bekerja sebagai pe mecah batu tebing. laporan aci

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Feature

‘Seribu Doa’ Untuk Aprilita

 

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad. Ruang Merak I Lantai III. Kamar Infeksi. Di sudut kanan lorong belakang, ada tiga orang wanita. Satu terbaring lemas di atas tikar pandan, satu duduk bersandar di dinding sembari menangis terisak, satunya lagi duduk sambil memegang ponsel.

Yang terbaring namanya Ika Desiana. Ia kuliah di Jurusan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Di sebelah kiri Ika, duduk ibunya, Sri Haryanti.

 

Lengkapnya

Baca Juga :

 

 

Lambang Unri