Begitulah kesibukan para jip mania Minggu (3/11) lalu. Bukan hanya saat itu saja, tapi di setiap akhir pekan mereka berlatih menjinakkan arena pertandingan yang berada di kawasan Arifin Ahmad. Hobi satu ini dikenal dengan sebutan off road.
***
Selain hobi, off road juga salah satu cabang olahraga di Riau. Perangkat yang dibutuhkan yakni sebuah mobil, seorang pengemudi dan seorang navigator (petunjuk arah) yang memenuhi kriteria tertentu. Kini sudah ada Indonesian Off Road Federation (IOF) Daerah Riau, sebuah lembaga yang menaungi semua club off road di Riau.
Bulan Februari 2002 lalu, IOF didirikan. Di kawasan Riau ini ada sebelas club yang dibawahi IOF. Pekanbaru punya Riau American Jeep, Jimmy Club, Riau Event Club, Blue White Club, Land Nover Club Pekanbaru, Telkom Jeep Club, dan Galileo Jeep Club. Sedangkan daerah lain di luar Pekanbaru ada Dumai Off Road Club, Duri Off Road Club, Duri Landcruisser Club, Bangkinang Lakkeko, dan Rengat Dir Community. “Sekarang tambah banyak club-nya karena sudah ada tempat latihan yang baru dibuat,” ujar Agus Purnomo, Sekretaris Umum IOF.
Merek dan jenis mobil off road cukup beragam. Tapi yang biasa dipakai mobil berpenggerak 4 x 4. Mobil off road ini juga dibagi atas beberapa cc atau daya, ada yang di bawah 2500 cc, ada juga di atas 2500 cc. Kelasnya juga terbagi lima, yaitu kelas 1000 cc, 1000-2000 cc, di atas 2000 cc, di atas 4000 cc, dan kelas bebas.
Bagi Eddy, Ketua Divisi Adventure Riau American Jeep, itu semua tidak penting. “Yang terpenting keamanan berkendara,” ujar lelaki yang juga seorang pecinta jip ini. Ia telah mengenal dunia off road sejak lulus Sekolah Menengah Kejuruan. Ia juga seorang mekanik di bengkel miliknya. Ia pun pernah tujuh kali menang di berbagai lomba off road. Namun kemenangan tak begitu penting baginya. “Yang paling membanggakan kalau mobil yang kita modif nggak ada masalah dari awal hingga akhir pertandingan,” ujar alumnus SMK Muhammadiyah ini.
Off road mengenal dua pola pertandingan, country road (CR) dan special community state pita line (SCS). Bedanya, CR bermain di arena luas tanpa arah dan petunjuk dalam jangka waktu tertentu, sedangkan SCS arena permainannya tak begitu luas disertai beberapa petunjuk, namun banyak rintangan yang harus dilalui. “Yang melintas pertama akan beruntung karena jalan masih bagus, off roader (pengemudi jip, red) kedua dan seterusnya akan menempuh jalan ‘babak belur’,” ujar Eddy Black – sapaan akrab Eddy.
Otomatis dalam off road tak hanya kepintaran menyetir yang diuji, teknik menentukan jalan dan kekuatan mobil juga turut mempengaruhi kemenangan. “Faktor keberuntungan 50 persen, kekuatan mobil 20 persen, kepintaran menyetir 10 persen, dan navigator 20 persen,” ujar Edy Black.
Riau boleh dikatakan ‘anak kemarin sore’ di dunia off road. Namun untuk urusan prestasi, tak bisa dianggap sepele. Beberapa club sudah banyak memenangkan berbagai lomba. IOF sendiri juga telah berhasil membawa pulang beberapa piala. Tahun 2004 lalu, IOF memenangkan dua perlombaan, yakni Bhayangkara dan Wirabima. “Hadiah paling besar yang pernah diterima IOF mobil dan motor,” ujar Agus Purnomo. Kini, IOF sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba Riau Celins pada Januari-Februari 2009.
Walau sudah banyak lomba yang dimenangkan, para off roader masih memiliki beberapa kendala, seperti sparepart mobil yang masih langka di Riau. “Belinya harus di Jakarta,” keluh Eddy Black. Selain itu, jika ingin berlaga, semua off roader harus mengeluarkan isi kantong sendiri karena belum ada sponsor. “Kalau ada dana baru berangkat,” tambahnya.
***
Widodo, salah seorang jip mania, rela datang pada latihan Minggu (3/11) lalu walau mobilnya dalam masa perbaikan. “Saya datang karena hobi, kalau nggak, ngapain saya ke sini,” ujar pria berusia 29 tahun ini. Ia kini sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan off road di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Senada dengan Widodo, Yol Adrian susah payah mendirikan Jimmy Club saking cintanya pada off road. Anggotanya sekarang sudah dua puluh lima orang. “Diawali dengan kumpul-kumpul sesama pecinta jip, hingga akhirnya tercetus ide membuat sebuah club,” ujar Yol yang sudah empat tahun memimpin club-nya. Jimmy Club baru mengikuti lomba off road se-Pekanbaru. Namun mereka bertekad kuat untuk ikut pertandingan skala nasional.
“Namanya juga hobi,” itulah kata yang selalu diucapkan para jip mania. Arena pertandingan yang tak memadai, mereka buat sendiri. Pengiriman sparepart yang harus menunggu lama, mereka jabani. Perbaikan mobil yang dananya tak jarang lebih tinggi dari harga mobil itu sendiri, mereka keluarkan. Semua itu demi menyalurkan sebuah hobi, berpacu di arena off road.
laporan pida